Sun. Mar 29th, 2020

Majalah Inspirasi kaum muda

Lima Alasan Kenapa Jakarta Sering Kebanjiran

Alasan Jakarta Banjir

Alasan Jakarta Banjir

Apa aja sih penyebab banjir di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangeran dan Bekasi) ? Kenapa bisa separah ini, ya?

Seperti biasa, kita kembali mendengar cerita tentang banjir Jakarta yang kembali terendam banjir. Genangan air yang memenuhi berbagai sudut ibu kota di awal tahun 2020 menjadi salah satu yang terparah dalam dekade terakhir. Sebagai masyarakat, hati saya cukup trenyuh melihat video tentang kondisi saudara-saudara kita terjebak hingga kesulitan meminta bantuan yang tersebar luas di media.

Tapi, sebenernya apa aja sih penyebab banjir di Jabodetabek (Jakarta, Bogor,  Depok, Tangeran dan Bekasi) ? Kenapa bisa separah ini, ya? Beneran enggak sih semua salah pemerintah? Yuk, Sobat cermati penjelasan-penjelasan di bawah ini.

1.Kurangnya Resapan

Buat Sobat yang belum tahu, posisi kota Jadetabek khususnya Jakarta berada di daerah muara dari beragam sungai yang ada di Bogor. Bayangkan total ada 13 sungai yang mengirimi Jakarta air. Mendapat kiriman air dari daerah hilir memang salah satu akibat dari muara. Jika sungai tidak bisa lagi menampung air, resapan juga minim maka banjir kemungkinan besar akan terjadi. Resapan sendiri bisa berupa sumur resapan untuk rumah tangga serta apartemen.

2. Penurunan Tanah Jakarta

Seperti yang disebutkan di poin pertama, posisi Jakarta sebagai daerah muara membuat Jakarta memiliki ketinggian yang rawan dengan laut. Dilansir dari detik.com, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menerangkan, rata-rata penurunan muka tanah DKI Jakarta sekitar 7,5 cm per tahun. Penurunan tanah sendiri sudah terjadi sejak tahun 1975, bahkan menurut prediksi tahun 2050, 35 persen daerah di Jakarta sudah berada di bawah ketinggian permukaan laut. Jadi hal ini bukan barang baru lagi, Sob.

3. Normalisasi Kali Ciliwung Mandek

Normalisasi sendiri adalah mengembalikan kondisi lebar sungai menjadi 35-50 meter. Dengan begitu kapasitas air yang dapat ditampung oleh Kali Ciliwung akan bertambah sehingga diharapkan dapat mengantisipasi banjir. Ide ini sudah muncul pada tahun 2012, namun pengerjaannya mandek sementara pada tahun 2018. Pekerjaan normalisasi Sungai Ciliwung mencakup penguatan tebing, pembuatan tanggul, dan menata kawasan di sepanjang sisi sungai. Sayangnya, pembebasan lahan masih menjadi momok utama normalisasi Kali Ciliwung.

4.Perubahan Iklim

Selain perubahan iklim yang terjadi secara global, perubahan iklim lokal juga dapat terjadi. Hal ini merujuk pada curah hujan yang tidak wajar di wilayah Halim. Menurut Ahli Geospasial, Bintang Rahmat Wananda, curah hujan yang tercatat di Halim melebihi rekor curah hujan harian kala ulang 1.000 tahun. Padahal jika merujuk kurva Gumbel, diprediksi curah hujan tertinggi maksimal hanya sampai 208 mm/hari. Tetapi, hal ini juga masih perlu dikaji lebih lanjut. Serem banget ya, Sob?

5. Minim Ruang Terbuka

Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Terbuka Biru (RTB) memiliki peran yang sangat penting untuk menanggulangi banjir yang menjadi bulan-bulanan Jakarta. Ruang terbuka biru adalah sebuah kawasan yang ditujukan untuk menjaga ketersediaan air bersih dalam jangka panjang, sedangkan ruang terbuka hijau ditujukan untuk menjaga kualitas udara perkotaan. Sementara ruang terbuka hijau cenderung untuk menjaga kualitas udara. RTB bisa dipahami sebagai daerah waduk dan juga danau. Di Jakarta sendiri hampir tidak bisa ditemui RTB satupun.

Gitu Sob, beberapa penyebab-penyebab banjir di Jakarta. Jadi jangan langsung nyalahin salah satu sisi ya! Kita sebagai warga juga harus sadar nih dengan enggak membuang sampah sembarangan atau menggunakan air secara bijak. Enggak cuma warga Jakarta saja yang harus melakukannya, tapi itu kewajiban kita semua sebagai manusia yang sadar dengan lingkungan.

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara