Sun. Mar 29th, 2020

Majalah Inspirasi kaum muda

Guru Harus Paham Karakter Generasi Micin

Generasi Micin

Generasi Ajinomoto, itukah kalian?

Generasi micin ; tentunya temen-temen udah nggak asing dong dengan kata generasi micin? Ya, generasi micin adalah salah satu kata yang belakangan ini sering digaungkan oleh masyarakat. Mengapa begitu? Sebelum kita bahas lebih lanjut mari kita kupas tuntas apa itu arti dari generasi micin.

Generasi micin adalah salah satu kata yang menggambarkan ciri anak zaman sekarang. Generasi micin kerap disandingkan dengan kata “generasi milenial” atau “kidz zaman now”. Tapi, sebenarnya hal apa sih yang membuat pelajar zaman sekarang dikatakan generasi micin? Mengutip ulasan hionline, generasi micin adalah ungkapan untuk anak zaman sekarang yang kerap melakukan hal bodoh karena nggak berfikir lebih dulu. Atau sarkasnya, “tingkahnya bikin orang dewasa geleng-geleng kepala dan mengelus dada”.

Usut punya usut, hal ini dapat terjadi karena pelajar zaman sekarang gemar mengkonsumsi micin secara berlebih. Jujur saja, tiap orang tua pasti pernah menasehati anaknya untuk tidak mengkonsumsi ciki kan? “ojo makan ciki-cikian, ndak dadi bodoh le!”. Karena as we known, ciki mengandung banyak micin. It’s mean, makan ciki = makan micin = bodoh.

Dengan sikap yang demikian, tentunya menjadi guru bagi generasi micin adalah salah satu tantangan yang berat. Untuk menjadi guru bagi generasi micin tentunya seorang guru harus memahami dengan benar dulu karakteristik generasi micin ini. Karena, ketika guru mengajar dengan cara jadul yang membosankan, jangan harap mereka akan mendengar. Nah, itu dia salah satu contoh attitude generasi micin. Dari sana, jelaslah bahwa seorang guru bagi generasi micin harus mempunyai kekuatan extra dalam mengajar. Tapi, sebenarnya bagaimana sih sosok guru idaman ala generasi micin?

Satu, moderat. Yups, salah satu karakteristik generasi micin yakni ”nggak bisa lepas dari gadget” atau ungkapannya “no gadget no life”. Terlebih lagi, kini kita hidup di era 4.0, dimana semua hal serba elektronik dan instan. Oleh karenanya, seorang guru bagi generasi micin haruslah mahir dalam bidang Teknologi Informatika.

Dua, wawasan luas dan “sedikit nyeleneh”. Tunggu dulu, “nyeleneh” yang dimaksud di sini bukan dalam konotasi buruk, tetapi banyak akal untuk menjawab segala macam pertanyaan yang diajukan oleh murid. Sebagai generasi yang digaung-gaungkan akan menjadi generasi emas, maka jangan heran jika mereka banyak bertanya. Tak jarang, mereka kerap menanyakan pertanyaan-pertanyaan nyeleneh yang kalau dipikir-pikir lagi “ndak perlu ditanyakan cuk”. Atau bahasa halusnya, kritis berlebih. Dari sana, tampaklah bahwa seorang guru bagi generasi micin haruslah berwawasan luas agar dapat menjawab semua pernyataan cinta, eh pertanyaan murid maksudnya, hehe.

Ketiga, hitz. “milenial gitu loh”. Salah satu ciri generasi micin adalah gampang bosan. Oleh karenanya, seorang guru bagi generasi micin haruslah orang yang kekinian. Yang update tentang permasalahan terkini, dan tentunya mampu mengajar dengan cara yang asyik dan harus banyak berinteraksi.

Terakhir, banyak cerita. generasi micin sangat haus akan pengalaman. Oleh karenanya, mereka lebih suka menghambur-hamburkan duit untuk mencari pengalaman ketimbang menabung untuk aset di masa depan. Karena mereka beranggapan bahwa “sharing is cool”-makanya suka panjat social-, mereka butuh guru yang gemar berbagi pengalamannya.

Tapi yang paling penting, di samping memiliki sifat-sifat seperti diatas, seorang guru bagi generasi micin haruslah tegas dalam bertindak. Karena jika tidak tegas dan hanya mengikuti keinginan murid, seorang guru tidak akan disegani. Bahkan parahnya, mereka berani untuk melawan guru. Oleh karenanya, selain memiliki sifat-sifat idaman seperti di atas, seorang guru bagi generasi micin  tetap tidak boleh menghilangkan wibawa dan ketegasannya.

Penulis: Putri Wida Dwi Mareta

Speak Up Januari 2020