Sun. Mar 29th, 2020

Majalah Inspirasi kaum muda

JLFR dan Kisah-Kisah Dibalik Euforia Bersepeda

JLFR

JLFR

Bersepeda bersama membelah kota Jogja itu asik, tapi.

Bagi beberapa warga Yogyakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan Jogja Last Friday Ride. Atau jangan-jangan ada dari Sobat Kuntum yang belum tahu apa sih kegiatan JLFR itu, JLFR sendiri adalah sebuah komunitas. Seperti namanya, JLFR sendiri mengagas kegiatan bersepeda secara kolektif/bersama setiap malam Jumat terakhir tiap bulannya. Kegiatan yang dimulai pada tahun 2010 ini bertujuan untuk mengajak masyarakat Yogyakarta untuk kembali menggunakan sepeda sebagai transportasi pribadi, dari yang awalnya hanya ada 100 peserta sekarang sudah ada ribuan peserta yang turut bergabung dalam JFLR.

JLFR terinspirasi dari peristiwa Critical Mass yang sudah menjadi tradisi di beberapa negara besar. Kita bisa menemukan berbagai jenis sepeda dari yang biasa kita gunakan sampai yang paling unik seperti low rider dan MTB atau sepeda gunung. Selain itu, semua lapisan masyarakat juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan Critical Mass ini.

Jogja Last Friday Ride sedikit mengingatkan kita kepada Sego Segawe yang sempat ramai beberapa tahun lalu atau gerakan Bike To Work yang tidak kalah viralnya di kalangan pekerja kantoran. Setiap bulannya, rute yang dilalui oleh JLFR juga berbeda-beda. Stadion Kridosono menjadi titik favorit JLFR hingga saat ini. Tetapi Sobat Kuntum tetap bisa melihat lautan peseda di setiap sudut Yogyakarta yang berkumpul bersama-sama menuju Kridosono.

Mula-mula, saya sebagai penulis merasakan euforia kegembiraan yang sulit digambarkan ketika melihat animo masyarakat yang sangat besar untuk ikut dalam JFLR. Namun, lama kelamaan beberapa hal menganggu saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya paham sepeda merupakan mayoritas transportasi pada saat ini di Yogyakarta, tumpah ruahnya pesepeda di satu malam itu malah makin membuat runyam jalanan yang mereka lewati. Belum lagi, bila melanggar tata tertib di jalan. Duh, membuat kepala rasanya makin pusing.

Penuturan serupa dikatakan oleh teman saya, Sakinah, 23 tahun, mahasiswa. “Saya pernah waktu itu ada di lajur yang tepat tetapi para pengendara JFLR tidak mau memberikan tempat kosong untuk motor saya. Malahan saya yang disinisin sama mereka”

Selain mendapat keluhan di dunia nyata, saya juga menemui banyak cuitan-cuitan yang menumpahkan kekesalannya pada acara JFLR. Seperti, akun @KasanKurdi: Saya pernah lewat di jalan sblh barat kridosono dan mereka ini banyak yg parkir sambil ngobrol di tngh jln, benar benar di tengah jln bukan di pinggir. Saya tidak klakson atau apapun, hanya berhenti di depan mrk, saya tunggu kesadaran mrk, dan mrk malah teriak maburo, mabur.

Akun @baramaniac juga mengeluhkan sikap peserta JFLR: Bener e cah2 JLFR bengi ini attitude raenek. UKDW sempet macet suweeeee

Sangat saya sayangkan, tujuan yang sangat mulia dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi polusi udara dan mengurai kemacetan. Yang kita dapat sebagai pengguna jalan justru ironi yang berkebalikan dengan tujuannya.

Hal-hal sederhana seperti memanfaatkan ruang tunggu sepeda juga malah disalahgunakan dengan menunggu lampu merah di zebra cross, tempat dimana seharusnya pejalan kaki menyebrang bahkan yang paling miris adalah menerobos lampu merah.  Tentu saja, ini tidak berlaku untuk semua pesepeda yang mengikuti JFLR, ya Sob.

Sedih rasanya ketika kita yang justru mengembalikan keteraturan dijalan raya malah merebut hak pengguna jalan yang lain. Untuk Sobat Kuntum yang belum pernah ikut, tidak perlu khawatir! Yang paling penting adalah perhatikan dan taati semua tata tertib di jalanan serta jangan membuang sampah sembarangan. Sekadar tips, bawa tas kecil jika berkegiatan untuk tempat membuang sampah kalau khawatir tidak menemukan tempat sampah.

Bagi yang sudah sering ikut, yuk kita lakukan hal-hal yang merugikan pengguna jalan lain. Jadilah pesepeda yang baik, dan ingat loh jangan berhenti bersepeda di JFLR saja. Kamu juga bisa kok memulainya dengan bersepeda ke warung terdekat. Ingat ya!

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara