Majalah Inspirasi kaum muda

Kematian Sulli dan Alarm Bahaya Cyberbullying

kematian sulli
Begitu bahayanya perundungan di sosial media hingga kematian jadi imbasnya.

Lagi-lagi industri serta penikmat K-pop dirundung duka. Seorang aktris bertalenta yang juga eks-member dari girlgroup f(x) yakni Sulli, meninggal dunia karena bunuh diri pada 14 Oktober lalu. Malam sebelum kejadian, sang manajer panik ketika menemukan Sulli tidak datang ke lokasi syuting acara ‘Night of Hate Comments’ yang disiarkan di stasiun televisi JTBC dimana para selebriti membedah komentar-komentar buruk yang ditujukan kepada mereka.

Sejak awal perjalanan karirnya, Sulli seakan tidak terlepas dari pemberitaan dan komentar negatif yang ditunjukkan kepada dirinya baik di media sosial pribadi Sulli atau pencarian Naver (mesin pencari di Korea Selatan). Ditambah lagi kenyataan bahwa Sulli secara terang-terangan menunjukkan sikap politiknya yang menunjukkan dukungannya agar perempuan memiliki pilihan aborsi. Belum lagi, sikap terbuka Sulli pada hubungan asmaranya dengan rapper Choiza yang memiliki usia 14 tahun lebih tua darinya,

Hal-hal tersebut dianggap publik Korea sangat bertentangan dengan image Sulli yang dibangun ketika berkarir di f(x) sebagai gadis polos baik-baik. Perisakan dunia maya atau cyber bullying memang bukan sesuatu yang baru di industri K-pop, hampir semua idol mengalaminya. Kini, Sulli akan selalu dikenal sebagai satu dari sedikit wanita yang berani mengekspresikan dirinya. Berita terakhir, publik Korea Selatan menuntut pemerintah untuk membatasi gerak para penulis komentar negatif di internet dengan membuat Undang-Undang Sulli.

Perisakan dunia maya terutama bagi remaja merupakan makanan yang dapat sehari-hari di temukan di kanal manapun. Bisa jadi kita orang yang dirisak atau sebaliknya, apakah kita merisak? Mengacu pada data UNICEF tahun 2016, 41-50% remaja di Indonesia pada rentang 13-15 tahun pernah mengalami cyberbullying. Di dunia maya, orang-orang dengan kedok apapun bisa mencaci maki atau hanya sekadar ikut-ikutan melakukan itu tanpa tahu konsekuensi. Mereka yang bersembunyi dibalik komentar tidak peduli apakah hal itu dapat merusak hidup seseorang atau tidak.

Cyberbullying dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sulli mengaku tidak melanjutkan tuntutannya kepada para komentator negatif dirinya karena mereka masih anak dibawah umur. See, Sob? Bahkan anak dibawah umur aja bisa seenaknya mengomentari hidup orang lain tanpa tahu itu benar atau tidak. Kemarahan yang tergesa-gesa, ditambah kita yang enggan mengecek berita membuat kemungkinan kita berperan sebagai perisak semakin besar di dunia maya.

Mungkin, beberapa memang hanya ingin ikut-ikutan meluapkan kemarahan. Tapi bagaimana dengan orang yang dirisak sendiri? Pertama kali yang dilihat adalah kata-kata bernada kebencian untuk dirinya, tidak jarang netizen melakukan penelusuran informasi yang lebih personal untuk menyerang kembali. Sob, kita bukan hakim di kehidupan orang lain. Berhenti menyakiti orang lain dengan alasan kepuasan.

Apa akibat yang bisa ditimbulkan?

Trauma berkepanjangan. Ketika bullying terjadi di dunia nyata, mungkin korban bisa berpindah tempat. Namun jika di dunia maya? Perisak tetap ada, bersembunyi di akun-akun lain, foto, serta identitas orang lain. Terus ada di setiap kita mengakses internet. So, selagi kita masih terus menjaga kewarasan kita, yuk kita berhenti mengasumsikan hidup orang lain seperti apa dengan tidak berkomentar seenaknya.

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara