Majalah Inspirasi kaum muda

Keteladanan dari Sang Couplepreneur

couplepreneur

Sosoknya dikenal tomboi, galak, senang berteman dengan laki-laki, dan suka memakai celana panjang. Namun pada suatu ketika, tiba-tiba muncul memakai rok dan berhijab lebar.

Itulah Kitik Intarti, yang akrab dipanggil Kiti. Perubahan mencolok yang dilakukan gadis kelahiran Madiun ini sempat mengagetkan banyak pihak. Adek-adek dan teman-temannya di kampung halaman bertanya-tanya, Mengapa Kiti kini berubah? Orang-orang terdekat Kiti di tanah kelahiran pun sama membatin “Kiti sekarang lebih ukhti-ukhti”.

Apakah yang dialami Kiti tersebut disebabkan oleh pengaruh ‘urban hijrah’ (hijrah kaum muda perkotaan) yang cukup masif di kampus-kampus negeri seperti apa yang dikatakan oleh Norhaidi Hasan, Cendikiawan muslim dari UIN Sunan Kalijaga? Bagaimana Kiti yang lama berubah menjadi soaok Kiti yang baru?

Kisah di atas merupakan penggalan paragraf di bagian awal buku. Buku yang bergenre otobiografi ini dibagi menjadi enam bab. Bab satu menceritakan aktivitas Kiti sebagai penggiat organisasi ektra kampus, yaitu IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), saat menempuh studi di Universitas Gajah Mada (UGM).

Di IMM, Kiti menjabat sebagai sekretaris, meski urusan surat-menyurat bukanlah suatu hal yang disukainya. Beruntung Kiti memiliki Ketua yang tidak banyak menuntut, bahkan bersedia membimbingnya mengurus kesekretariatan.

Dari IMM inilah Kiti akhirnya bertemu pujaan hati. Coba tebak, siapa jodohnya? Siapa lagi kalau bukan Sang ketua IMM UGM, yang memiliki nama lengkap Zulfi Ifani. Oleh Kiti, ia kerap disapa dengan panggilan “Mas Fani”. Kedua anak muda ini ternyata mengikuti mazhab CBSA. CBSA disini bukanlah Cara Belajar Siswa Aktif, yang sering muncul di cover buku-buku pelajaran sekolah. Namun CBSA yang dimaksud adalah Cinta Bersemi Sesama Aktivis. Diksi ini cukup santer di kalangan penggiat organisasi kemahasiswaan kala itu.

Bab-bab selanjutnya menceritakan subtansi dari buku setebal 215 halaman ini. Karena mengisahkan suka-duka dan pengalaman kiti dalam membangun rumah tangga, mengelola pekerjaan, momongan dan perjuangan menempuh studi lanjut yang mengharu biru. Dalam menghadapi berbagai urusan tersebut, seringkali terjadi drama-drama kehidupan tanpa settingan. Walaupun kisahnya tidak se lebay drakor alias drama korea, namun sangat menarik untuk disimak.

Salah satu dramanya adalah pengalaman Kiti yang mengidam saat hamil anak pertama. Ia sama sekali tidak menyukai bau suaminya. Indera penciuman Kiti mendadak sensitif ketika menghirup bau sang suami. Konon tercium seperti aroma domba. Bahkan mendengarkan suaranya saja, membuat Kiti pusing tujuh keliling hingga muntah-muntah.

Lalu, apakah drama itu berhenti di sini? Tidak, drama masih berlanjut dengan kisah yang lebih dramatis. Kerena apa yang dialami Kiti lebih menjadi-jadi. Puncaknya saat ia mengalami baby blues, dimana muncul rasa tidak suka pada bayi yang telah dilahirkannya. Hal ini, apakah membuat sang suami marah, dan sampaikah terjadi perang Bharatayudha pada kedua pasangan ini? Temukan jawaban yang mengejutkan dengan membaca lanjutan kisahnya.

Buku ini tidak hanya mengisahkan drama kehidupan saja. Pada bab lain diceritakan pula sosok Zulfi Ifani yang hard worker (pekerja keras). Demi mendapatkan rizki untuk bisa meminang Kiti, Fani mengembangkan usaha iFrame di bidang multimedia. Tidak hanya melayani jasa pembuatan video dan rental kamera, iFrame juga membuka lini usaha penjualan perpheral melalui platform iFrame-Shop. Siang malam bekerja keras tak kenal lelah, hingga akhirnya mengantarkan Fani menderita sakit hepatitis A.

Selain pekerja keras, Fani juga dikenal sebagai orang yang tahan banting. Tahan banting adalah jantung seorang entepreneur sejati. Jika tidak memiliki sifat itu, lebih baik banting setir saja dari menjadi pengusaha. Karena pengusaha yang berhasil adalah mereka yang mampu melewati kegagalannya. Begitu juga dengan iFrame Multimedia yang digawangi oleh Zulfi Ifani.

Konsekuensi dari bisnis persewaan adalah rawan terhadap tindakan kriminalitas seperti penggelapan atas kamera yang disewa. Insiden inipun dialami oleh iFrame tidak hanya satu atau dua kali, tetapi beberapa kali. Lantas kejadian ini apakah membuat ia menyerah? Tidak!

Justru dengan berbagai kejadian tersebut, ia mampu membaca pola dan modus atas kasus-kasus sejenis. Dengan memiliki skill ini, Fani semakin piawai dalam mendekteksi customer mencurigakan sejak awal. Apakah customer ini serius ingin menyewa kamera atau sudah terbit niat jahat untuk melakukan penggelapan kamera, dapat diketahui gelagatnya. Hal tersebut sangat penting agar bisnis tidak dirugikan oleh orang jahat.

Cobaan yang dialami iFrame tidak hanya berkisar pada penggelapan kamera. Pada masa pandemi, omset bisnis iFrame rental kamera turun drastis. Pernah dalam satu hari Fani mendapat laporan hasil pendapatan ZONK (nol, tidak ada pemasukan). Di masa pandemi covid-19, jumlah penyewa kamera yang didominasi oleh traveller jauh berkurang. Mereka memilih stay at home karena kebijakan lockdown ataupun khawatir tertular virus.

Roda bisnis iFrame yang semakin menurun membuat Fani, selaku Founder dan CEO, pening bukan main. Namun, ia tetap tetap tidak menyerah dan tidak pula berputus asa. Kondisi ini justru menjadikan lecutan untuk belajar serius tentang trend bisnis di era Covid-19. Ia rela berjam-jam belajar bisnis di youtube, mengikuti webinar bisnis dan sharing dengan pengusaha lebih senior.

Ketekunan belajar dan keuletan yang tak kenal lelah akhirnya berujung pada secercah harapan. Fani menemukan strategi bisnis agar tetap eksis di masa covid-19. Rumus tersebut adalah Pivot. Pivot adalah istilah dalam bola basket yang berarti : gerakan memutar badan dengan menggunakan tumpuan salah satu kaki sebagai poros putaran setelah menerima bola atau passing dari rekan satu timnya.

Implementasi pivot dalam bisnis adalah sedikit merubah arah bisnis, tetapi masih beririsan dengan bisnis sebelumnya. iFrame tidak lagi menggantungkan pada bisnis rental kamera, namun mengambil peluang bisnis persewaan alat live streaming, pengadaan studio live streaming dan rental akun zoom meeting. Akhirnya dengan strategi yang tepat, iFrame mulai bangkit dari keterpurukan bisnis.

Menarik, bukan? Buku ini selain berbagi pengalaman tentang problematika kehidupan, juga memberikan tips-tips dalam menjalankan bisnis. Itulah beberapa ibrah keteladanan dari couplepreneur, Kiti dan Fani, yang bisa saya tuliskan. Sesungguhnya dalam buku bersampul warna hijau muda ini masih banyak keteladanan kisah yang tidak bisa saya ceritakan. Untuk lebih jelasnya, anda bisa mengkhatamkan buku ini sendiri. Selamat membaca dan berburu inspirasi.

Penulis : Dani Kurniawan – Pegiat Literasi