Sun. Mar 29th, 2020

Majalah Inspirasi kaum muda

Kiprah Fajar Junaedi di Kampus dan Sepakbola

fajar junaedi

fajar junaedi

Fajar Junaedi atau kerap disapa Mas Jun adalah alumni jurusan Komunikasi di Universitas Diponegoro angkatan 1998. Sosok ini juga pernah melanjutkan studi gelar magisternya di Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surakarta kemudian dijenjang paling akhir berhasil meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada.

Kini pria yang lahir Madiun tanggal 20 Mei 1979 ini dikenal sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada masa berkuliah di Universitas Diponegoro inilah beliau mulai banyak membaca, menulis, dan berdiskusi untuk mengawali proses belajarnya dibidang jurnalistik. Beliau mengawali proses belajarnya ini di Pers Mahasiswa Opini yang berada di tingkat fakultas lalu universitas.

“Yang saya lakukan pada waktu itu belum ada email. Bisa dibayangkan saya menyerahkan hasil tulisan dengan menggunakan floppy disk berukuran besar yang kemudian saya kirimkan ke beberapa koran maupun majalah lokal pada waktu itu,” tuturnya.

Maka dari itu, Mas Jun di waktu muda sangatlah menghargai proses belajar menulis. Bahkan saat menjadi seorang mahasiswa, beliau sadar betul akan pentingnya membuat portofolio sebanyak-banyaknya untuk masa yang akan mendatang.

“Waktu itu, tulisan saya dimuat di Radar Madiun. Nanti kalo dimuat bapak ibuk ngabarin, ya telfon rasanya seneng banget, ketika orang tua membaca tulisan tersebut,” ceritanya pada Kuntum. Menurutnya dengan cara tersebut, menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk membahagiakan orangtuanya. Bahkan saat tidak ada honor. Beliau memiliki prinsip bahwasanya bukan pada uang, namun menjadi mahasiswa yang harus menghasilkan portofolio sebanyak-banyaknya.

ANTARA LITERASI DAN SEPAK BOLA

Selain menulis, sosok Fajar Junaedi juga tidak terlepas dalam perkembangan dunia sepakbola Indonesia. Beliau menggagas bahwasannya dalam kajian culture studies, dunia per sepakbolaan Indonesia masih begitu mendasar. Belum ada isu-isu yang spesifik untuk mengkaji hal tersebut. Ia berupaya untuk memberikan informasi tentang sepakbola Indonesia melalui jurnal popular, hingga kolom opini di beberapa koran.

Dosen penggemar kajian suporter sepak bola ini dikenal aktif dalam mendorong mahasiswanya untuk menulis buku yang dijadikan outcomes selama berkuliah. Beberapa buku ini berjudul Dosa-dosa Televisi (2010), Mesin Pencuci Otak: Menggugat Tayangan Televisi di Indonesia (2012), Prek: Pelanggaran Etika Periklanan (2012), Gado-gado Pelanggaran Iklan (2009), Kolonialisasi Media Televisi (2013) yang ditulis oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY serta beberapa buku lainnya.

Beliau mengaku, daripada paper mahasiswa tidak digunakan kembali, mengapa tidak dikompilasi dijadikan buku, dan digarap dengan serius. Orientasi beliau bahwasanya seorang mahasiswa harus memperbanyak karya. Inilah cara beliau untuk membantu mahasiswa sebagai fasilitator.

PESANNNYA UNTUK PARA ANAK MUDA

Sobat Kuntum, beliau berpesan bahwa level tertinggi dari literasi adalah dengan membuat karya sedangkan level terendah adalah menganalisis. Sehingga kedua hal ini bisa dikombinasikan untuk proses dalam membuat karya, apapun itu dan sekecil apapun bentuknya.

“Sehingga anak muda ini bisa memberikan inspirasi kepada berbagai komunitas, untuk membangun media-media alternatif yang berkemajuan,” pesannya.

Beliau juga ingin disetiap sekolah untuk kembali menggiatkan budaya baca dan tulis. Beliau membayangkan jika peradaban islam pada zaman dahulu bisa berjaya kembali, karena anak mudanya yang giat untuk membaca dan menulis. Sehinnga dengan adanya gerakan ini, setiap sekolah bisa mempunyai majalah yang menjadi ciri khas dari sekolah masing masing. (Artikel ini pernah dimuat di majalah Kuntum edisi Mei 2019)