Majalah Inspirasi kaum muda

Perjalanan Lalu Muhammad Jadi Duta Besar RI di Turki

Duta Besar RI
Gelar hanya membuktikan bahwa kita pernah bersekolah.

“Gelar hanya membuktikan bahwa kita pernah bersekolah. Jadi, saya bukan mendapatkan dua gelar, tetapi dua ilmu.”

Begitulah yang disampaikan oleh Lalu Muhammad Iqbal atau kerap disapa Iqbal. Beliau adalah seorang alumni jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta angkatan 1991. Beliau juga pernah belajar di Universitas Gadjah Mada, Jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya.

Sebelum beliau dilantik menjadi Duta Besar Indonesia untuk Turki oleh Presiden Joko Widodo, pria kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat ini adalah Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia – Bantuan Hukum Indonesia (PWNI – BHI) pada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Selain menangani kasus-kasus di bidang advokasi WNI yang terlibat masalah di luar negeri, ia juga merupakan juru bicara Kemenlu. Dan yang lebih hebatnya lagi, beliau merupakan direktur termuda di lingkungan Kemenlu.

Posisi itulah yang membuat Iqbal banyak berurusan dengan nasib anak bangsa di negera lain karena bidangnya menangani isu-isu seperti perdagangan manusia sampai nasib pekerja Indonesia yang mendapat hukuman mati. Sebuah tanggungjawab yang sungguh besar untuk ditangani. Namun, beliau mampu mengatasinya dengan baik.

MERANTAU UNTUK BISA MENJADI DIRI SENDIRI

Berbicara mengenai masa lalunya, Iqbal muda lahir di Praya, salah satu kecamatan kecil yang terletak di kabupaten Lombok Tengah. Setelah lulus SMP, beliau dan lima saudaranya diharuskan merantau ke luar daerah dengan harapan orangtuanya yang lebih mementingkan pendidikan anak-anaknya.

“Prinsip orangtua adalah menyekolahkan anak ke luar daerah bukan hanya mendapatkan pendidikan yang lebih baik, tetapi dimana bisa menjadi dirimu sendiri,” tuturnya.

Maka dari itu, Iqbal muda merantau kali pertama sampai menginjakkan kaki di Solo, Jawa Tengah pada tahun 1987. Berawal dari pendidikannya di Pondok Pesantren Assalam di Solo, orang tua beliau tidak mengizinkan Iqbal untuk kembali ke Lombok.

“Orangtua saya selalu bilang saya gak boleh pulang sebelum membawa ijazah. Jadi, selama 4 tahun itu saya tidak pernah pulang,” katanya.

Setelah beliau lulus dari pondok pesantren, beliau mencari pendidikan yang lebih baik mulai dari Jakarta sampai akhirnya beliau menetap di Yogyakarta untuk berkuliah. Mimpi beliau dalam menempuh pendidikannya tidak pernah padam. Beliau hanya ingin dirinya bermanfaat bagi semua orang.

Beliau teringat akan almarhum kakeknya yang merupakan tuan guru atau kyai yang kepergiannya menyebabkan ribuan orang mengantarkan kakeknya ke tempat peristirahatan terakhir. Dari momen inilah, beliau ingin seperti kakeknya yang dikenang oleh semua orang.

MELIBATKAN DIRI PADA KASUS MYANMAR

Sejak November 2018, Lalu Muhammad Iqbal yang masih menjabat sebagai Direktur Perlindungan WNI Kemlu ikut berperan dalam kasus penahanan kapal penangkap ikan Bintang Jasa milik Indonesia di Myanmar.

Beliau yang mendapat kabar bahwa nelayan-nelayan tersebut dideteksi segera melakukan perjalanan darat selama 38 jam bersama tim untuk mengurus kasus tersebut. Walaupun banyak menemui sejumlah kendal, akhirnya 14 nelayan tersebut berhasil dibebaskan.

“Jika kami tidak bertindak cepat, mereka akan mendapat hukuman penjara selama 7 – 9 tahun,” ceritanya.

Beliau mengaku bahwa kasus ini merupakan pembelajaran bahwa memperjuangkan warga negara Indonesia yang terjerat kasus di luar negeri tidaklah mudah. Namun, inilah cara beliau untuk membantu Indonesia.

PESANNYA UNTUK PARA REMAJA

Sob, beliau tidak lupa menuturkan generasi remaja harus memantik semangat diri sendiri dari ajaran Islam.

“Semua hal itu tergantung pada niatnya. Apa yang kita niatkan, itulah yang kita dapatkan. Makanya, dalam melakukan perbuatan baik dalam pekerjaan, niatkan saja. Insha Allah, rezeki akan didapatkan karena hasil implikasi dari niat itu sendiri,” pesannya.

Beliau juga ingin Sobat percaya dengan prinsip orang tua, karena orang tua ingin anak-anaknya lebih hebat dan menjadi diri sendiri dalam menempuh pendidikan daripada mereka.

Beliau memiliki mimpi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Contohnya dalam mempelajari Bahasa Inggris.

“Hampir semua anak muda mempunyai akses dalam bahasa inggris. Dengan adanya Google, semuanya bisa dipelajari kapanpun dan dimanapun. Berbeda dengan kita yang sangat bergantung pada buku. Hal ini dapat membuat perubahan untuk memajukan Indonesia juga meningkatkan kualitasnya,” tutupnya. [Artikel ini pernah dimuat di majalah Kuntum edisi bulan Mei 2019]