Majalah Inspirasi kaum muda

Pelajaran Dari Rabiah Al-Adawiyah, Sang Kekasih Allah

Rabiah al adawiyah

Ilustrasi Wanita Muslimah

Memetik pelajaran dari sang kekasih allah | Seri Tokoh Islam Kuntum

Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?

Beberapa dari kita mungkin sudah enggak asing lagi dengan lirik lagu diatas. Konon lirik lagu tersebut terinspirasi dari seorang sufi perempuan bernama Rabiah Al-Adawiyah yang menunjukkan kecintaannya terhadap Allah SWT tidak hanya dalam ucapan namun juga perbuatan dan keyakinan. Dilansir dari alif.id, Sufi sendiri adalah sebutan bagi seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah serta saking dekatnya seorang sufi dapat “menyatu” dengan Allah.

Rabiah sendiri lahir dari keluarga yang serba kekurangan. Nama lengkap beliau sebetulnya, Ummu al-Khair bin Ismail al-Adawiyah al-Qisysyiyah. Ia lahir dalam keadaan rumah yang gelap gulita karena keluarganya tidak mampu membeli minyak untuk menerangi lampu. Setelah lahir, sang ayah memimpikan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dimana Rasul mengatakan agar jangan bersedih karena Rabiah kelak akan menjadi orang yang terhormat.

Rabiah sedari kecil bersama tiga orang saudaranya memperoleh pendidikan agama yang kuat baik dari guru di masjid maupun kedua orangtuanya. Namun, dalam perjalanannya Rabiah sempat menjadi seorang budak dari saudagar kaya di Baghdad, Irak.

Rabiah sering tidak diperlakukan manusiawi oleh majikannya, ia kerap dipukuli. Setiap malam Rabiah berdoa kepada Allah tanpa henti, ia percaya Allah akan menyelamatkannya. Semakin hari kecintaannya kepada Allah selalu bertambah hingga suatu malam, si majikan melihat sebuah lentera berada di atas kepala Rabiah tanpa seutas tali, karena ketakutan majikan Rabiah akhirnya melepaskannya.

Setelah menjadi manusia bebas, Rabiah bertekad untuk mengabdikan dirinya hanya kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Tidak hanya menimba ilmu tetapi ia juga membagikannya dengan mengadakan beberapa majelis.

Kecintaannya kepada Allah tanpa alasan, bukan karena imbalan surga atau ketakutannya kepada neraka. Karena Allah lah satu-satunya cinta dalam hidupnya. Ajaran sufi yang ia kembangkan berlandaskan seluruh amal ibadahnya atas dasar cinta kepada Ilahi yang dalam buku Ensiklopedia Islam dikenal sebagai metode cinta kepada Allah.

Para ulama sufisme atau tasawuf memandang Rabiah sebagai tonggak penting perkembangan tasawuf dari fase emosi takut kepada Allah menuju fase mengembangkan dominasi cinta kepada-Nya secara maksimal. Al-Ghazali juga mengacu pada sistem ajaran Rabiah sebagai pembelajaran dalam sufisme.

Hingga akhir hayatnya, Rabiah menolak untuk membangun kehidupan rumah tangga dan memiliki keturunan karena takut cintanya kepada manusia akan melebihi cintanya kepada sang Pencipta. Banyak ulama yang memberinya julukan sebagai kekasih Allah karena ajaran dan syair-syair yang menunjukkan ruang di hatinya hanyalah untuk Allah semata.

Menukil dari kitab Tadzkirotul Auliya karya Fariduddin Attar, dikisahkan sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rabiah berujar kepada orang-orang yang sedang menjenguknya.

Mohon pergilah dulu kalian semua dari sisiku. Kosongkanlah ruangan ini khusus untuk baginda Rasulullah saw.” tuturnya sebelum akhirnya tiada.

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara