Majalah Inspirasi kaum muda

Apakah Tujuan Pendidikan Sekedar Agar Bisa Mendapat Pekerjaan?

pendidikan
Pendidikan Formal Untuk Apa Sih?
Apakah Tujuan Pendidikan Sekedar Agar Bisa Mendapat Pekerjaan?

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diisi oleh pendiri aplikasi daring GO JEK yaitu Nadiem Makarim. Berbagai respon muncul atas keputusan Presiden Jokowi ini, ada yang bernafas lega karena akhirnya sosok muda dapat mengisi salah satu posisi krusial bagi anak-anak bangsa. Namun, ada yang berpendapat bahwa Nadiem kurang cocok menjadi seorang Mendikbud karena tidak memiliki latar belakang pendidikan profesional.

Kontroversi lain yang muncul adalah himbauan presiden pada Mendikbud untuk menyiapkan pendidikan yang  siap dimanfaatkan untuk industri. Apakah memang begitu seharusnya pendidikan yang baik? Tentu tidak, dan  rasanya sedih sekaligus miris ketika seolah apa yang kita pelajari selama sembilan tahun bersekolah tidak ada artinya ketika lulus dari sekolah kelak. Pendidikan tentu seharusnya tak sebatas menyiapkan para pelajar untuk menjadi pekerja industri.

Jika melihat Finlandia yang dinobatkan sebagai sistim pendidikan terbaik oleh PISA (Programme for International Student Assessment) mungkin kita akan banyak melihat perbedaan.  Bagaimana tidak? Di Finlandia, ditiadakan PR dan ujian rutin dengan metode belajar berpusat pada siswa. Kemudian, guru diberikan upah lebih dan anak-anak dimotivasi untuk menyukai proses kegiatan belajar mengajar.

Sistem pendidikan yang baik menurut PISA sendiri adalah bagaimana anak dapat memiliki kemampuan analitis dan kritis dengan apa yang mereka tahu dalam ilmu pengetahuan. Dan punya keyakinan kuat pada pentingnya pertanyaan saintifik. Sementara Indonesia pada tahun 2015 masih menduduki peringkat 62 dari 72 negara oleh PISA.

Padahal kita tahu sendiri sebagai murid, setiap hari terasa tidak ada hari tanpa PR dari guru. Ada saja ulangan yang diadakan baik harian, tengah semester dan akhir. Belum lagi ujian nasional baru kemudian ujian masuk universitas. Kemudian kurikulum yang hampir saban periode diganti, memposisikan kita sebagai bahan uji coba.

Rasanya bertumpuk-tumpuk ujian yang kita lalui tapi kenapa kita masih tertinggal sebegitu jauhnya? Mungkin jawabannya, karena pendidikan kita tidak menekankan pada isinya namun pada hasil yang dicapai dari seluruh mata pelajaran itu. Atau jangan-jangan dari kita sendiri sebagai siswa yang tidak merasa greget dengan pelajaran di sekolah? Merasa duh sebenarnya apa sih gunanya.

Indonesia dalam urusan pendidikan masih meraba-raba cara apa yang paling pas untuk di aplikasikan, banyak keraguan dan masih banyak perbedaan tujuan antara pendidik satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, jangan khawatir Sob Indonesia sendiri bisa seperti Finlandia, namun agar terwujudnya hal tersebut dibutuhkan waktu yang tidak singkat, sumber daya yang berkualitas serta visi yang sama antar semua tingkatan dalam mewujudkan pendidikan.

Sebagai siswa, hal yang kita bisa lakukan adalah terus mengembangkan apa yang kita sukai apapun itu. Entah Sobat suka memasak, main bola, mengerjakan tugas Matematika, mengisi TTS atau nge-tweet hal-hal yang nyeleneh. Jangan lupa, selalu ingat bahwa kita tidak hanya bersaing dengan teman sebangku kita, sekelas kita bahkan satu kota dan seluruh Indonesia hingga ke kancah seluruh dunia.

Selain pelajaran yang ada di sekolah, masih banyak hal yang kita bisa pelajari di luar sekolah dan siapa tahu hal itu yang akan membuat kita lebih keren daripada yang sekarang. Jangan malu untuk belajar, ingat Sob semua yang kita pelajari sekarang kalau kita menemukan kesempatan-kesempatan untuk mengembangkannya jangan pernah dilewatkan. Dan semoga, terpilihnya kepemimpinan yang baru dapat membuat pendidikan Indonesia semakin baik ke depannya atau jangan-jangan kita sendiri yang akan melanjutkan perjuangan proses pendidikan Indonesia? Siapa tahu kan. Terus semangat Sob! Kalau bukan kita yang berjuang untuk diri sendiri terus siapa lagi?

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara.