Sun. Mar 29th, 2020

Majalah Inspirasi kaum muda

Remaja Perlu Tahu, Bicara Reproduksi itu Tidak Tabu

Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan Reproduksi Remaja

“Ma, aku mau cerita tentang mimpi basah pertamaku”

“Bapak, ini aku keluar darah banyak, itu menstruasi apa bukan?”

Apakah pernah dari Sobat Kuntum menanyakan hal seperti itu ke orang tua sendiri? Jika Sobat yang sudah pernah, mungkin reaksi orangtua pertama kali ketika menanyakan hal itu adalah diam terpaku melihat kita. Butuh waktu yang tak lama untuk mengontrol ekspresi untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan reproduksi itu.

Berbicara soal tubuh kita terutama kesehatan reproduksi memang bukan hal yang mudah, apalagi di negara Indonesia dimana topik itu masih dianggap tabu. Masih teringat cekikikan kawan-kawan lelaki saya ketika sekolah dasar saat pelajaran IPA soal reproduksi berlangsung. Kami, para perempuan, hanya bisa diam sampai jam pelajaran selesai. Hal itu tentu saya tidak rasakan sendiri, saat beranjak dewasa banyak teman-teman saya yang merasa se-asing demikian.

Tidak memadainya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja di Indonesia dan kurangnya sumber informasi yang valid. Dua hal itu menjadi dampak yang kita rasakan akibat ketidak pernahnya masyarakat membahas tentang kesehatan reproduksi remaja.

Selama ini, kata “reproduksi” hanya dimaknai sebagai hal-hal yang mempelajari proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan. Parahnya lagi, banyak kalimat yang mengatakan, ‘Ih jorok banget ngomongin gituan’ membuat kita mundur duluan untuk sekadar bertanya atau mencari tahu bersama. Padahal, reproduksi terutama kesehatan reproduksi terutama pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistim, fungsi, dan proses reproduksi.

Dilansir dari Tirto.id, menyembunyikan pendidikan seks dari anak justru membuat mereka lebih rentan, karena anak dan remaja sedang berada dalam fase mencari dan memiliki rasa penasaran tinggi. Anak yang tidak diberi pengetahuan seksual secara menyeluruh lebih rentan terkena risiko seperti penyakit, berhubungan seksual dengan tidak aman, dan yang lebih parahnya pernikahan anak.

Serem banget Sob, bahkan dari sesuatu yang menurut kita tidak terlalu memiliki urgensi bagi kehidupan memiliki akibat sebesar itu. Tidak hanya itu, penyakit menular seksual bahkan kehamilan di usia muda yang bisa saja berujung pada aborsi hingga parahnya kematian juga menjadi sederet akibat minimnya pengetahuan reproduksi remaja yang kita tidak bisa remehkan.

Data dari Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Oktober 2013 menyebutkan bahwa sekitar 62,7 persen remaja Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah dan 21 persen di antaranya pernah melakukan aborsi. Belum lagi pada kasus infeksi HIV dalam rentang tiga bulan ada 10.203 kasus HIV dan 30 persen pasiennya berusia remaja.

Edukasi mengenai kesehatan reproduksi remaja memegang peranan penting, karena dengannya, jika anak cukup mendapat pengetahuan, mereka akan lebih bertanggung jawab serta waspada terhadap kesehatan seksualnya. Melalui ini kita lebih belajar bagaimana cara mencintai tubuh kita secara utuh. Kesehatan reproduksi juga tentang merawat anggota badan kita loh!

Kemudian, kita juga tidak bisa membantah data-data tersebut, Sob. Kemudian bagaimana jalan keluarnya? Jika orang tua dan guru di sekolah belum bisa membuat Sobat Kuntum nyaman untuk bercerita tentang topik ini. Langkah kecil bisa dimulai dari mendiskusikannya bersama teman terdekat, kalian juga bisa menjadi konselor sebaya bagi teman sendiri. Mulai saja dulu dari pertanyaan yang umum, seperti ‘saat apa saja sih kita harus mandi wajib (junub)’

Dengan bekal pengetahuan kesehatan reproduksi, kita sebagai remaja makin paham bahwa pernikahan usia anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi saja, dan pernikahan usia anak juga otomatis akan menambah kelahiran dini yang berhubungan dengan angka kematian ibu dan bayi. Mulai diskusi, mari kita mulai ciptakan lingkungan dari tabu menjadi tahu. Selain itu, kita bisa mulai mengurangi mitos-mitos tentang kesehatan reproduksi remaja yang sayangnya masih dipercayai sampai saat ini.

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara