Majalah Inspirasi kaum muda

Saat Twitter Jadi Tempat Minta Tolong Asal-Asalan

twitter

twitter please do your magic

Minta tolong jangan asal, lho.
Twitter, please do your magic!

Mungkin kalimat itu pernah lewat di timeline Twitter, Sobat Kuntum. Atau jangan-jangan, Sobat sendiri yang mengetikkan kata itu dengan harapan yang terketik dan berharap segera disemogakan oleh seluruh jagad lini masa Twitter. Namun sayangnya, kebaikan ini agaknya dimanfaatkan oleh beberapa orang dengan dalih yang sama yaitu meminta tolong.

Baru-baru ini saya menemukan, tweet ber embel ‘twitter, please do your magic’ dimana si pengirim ingin ditraktir Chatime oleh teman-teman dunia maya karena belum pernah merasakannya. Perut saya tergelak, sebetulnya esensi meminta tolong sudah berubah menjadi seperti apa di Twitter?

Apakah kalau tidak minum Chatime hidupnya akan sengsara?

Berselang dua hari kemudian, saya kembali menemui permintaan tolong dari dua orang pasangan yang ingin menikah di platform Kitabisa.com dengan alasan tidak ingin merepotkan orangtua. Melihat angka permohonannya saja saya tidak mampu karena makin membuat saya bertanya-tanya, sebegitu urgensi kah pernikahan hingga menyasar di Kitabisa?

Menikah memang sesuatu yang sakral, kita akui itu. Tapi, menikah tidak hanya sekadar menikah loh. Banyak persiapan yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk menikah, salah satunya memiliki materi yang cukup. Belum lagi, nominal angka yang menjadi goal adalah 200 juta. Wow. Angka yang fantastis banget kan, Sob?

Banyak sekali kebaikan-kebaikan yang kita lihat serta sudah tersalurkan dari berbagai daerah di Indonesia, misalnya saja melarisi kakek penjual Burger Dinar yang menginspirasi kita semua. Gimana enggak, walaupun usia beliau yang udah enggak muda lagi beliau masih berjualan burger dan jarak yang ditempuh enggak main jauhnya? Dengan media sosial sekarang semuanya jadi lebih gampang, kalau tangan kita belum bisa terulur seenggaknya jari kita sudah me-retweet pesan bantuan itu.

Tidak salah meminta bantuan kepada orang lain, namun hal itu menjadi berbeda ketika apa yang kita mintai tolong tidak memiliki aspek keterdesakan. Hal yang seharusnya bisa kita lakukan sendiri dengan kerja keras kita malah kita lemparkan kepada orang lain. Sudah orang lain di dunia maya pula. Mungkin saja, budaya merasa kurang ini bersumber pada penyakit pengguna Twitter yang sering menasbihkan mereka sebagai kaum misqueen, kaum rebahan dan lain-lain. Duh. Duh. Makin sedih rasanya melihat fenomena ini terjadi.

Ditambah melihat kasus-kasus permintaan tolong yang ada. Rasanya saya ingin mengasihani orang-orang tersebut karena selalu menganggap diri mereka kurang. Sebagai orang yang pernah menggalang dana lewat platform Kitabisa, tidak pantas bagi kita untuk menyalahkan terciptanya platform tersebut. Menengok Syarat & Ketentuan yang dicantumkan Kitabisa, Kitabisa tidak bertanggungjawab dengan apapun yang disiarkan oleh campaigner nya.

Semuanya kembali kepada kita sebagai yang menilai apakah campaign tersebut etis atau tidak. Jika iya, mari berbagi. Jika tidak lewati saja sembari berdoa semoga mereka diberi kesadaran luarbiasa. Tidak usah ancang-acang menyinyir ulah netizen disana, silakan menengok diri masing-masing apa kita pernah minta tolong sejahat itu pada teman sendiri?

‘Eh, liat ulangan kamu dong’ Ulangannya udah dikasih tahu jauh-jauh hari.

‘Pinjem uang dulu dong besok aku ganti’ Padahal udah utang lima kali.

‘Kenalin aku dong sama temenmu’ Nah, kalau ini beda lagi.

Jangan sampai keengganan kita bersyukur membuat kita merasa kalau kita butuh bantuan. Sekali lagi, ayo kita tengok diri kita sendiri. Hidup ini emang kompetisi tapi jangan berlomba-lomba dalam meminta tolong untuk hal yang tidak terlalu penting baik untuk kamu ataupun kehidupan khalayak semua.

Penulis : Saraswati Nur Diwangkara

Illustrator : Nimal Maula