Majalah Inspirasi kaum muda

Senjata Literasi Nawal El Saadawi

Nawal El Saadawi

Nawal El Saadawi | Egypt Today

Memetik Hikmah dari Perjuangan Literasi Nawa El Saadawi | Seri Tokoh Islam Kuntum

Nawal El Saadawi rupanya memang betul-betul memandang wahyu pertama dari Allah SWT untuk Nabi Muhammad sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan. Iqra’! Bacalah. Ayat itu yang menjadikan Nawal makin rajin menulis.Karya-karya fiksinya dibaca di seluruh dunia.

Di negaranya sendiri, Mesir, Nawal harus menghadapi perlakuan kasar dari pemerintah yang menentang karyanya. Ia dijebloskan di penjara beberapa kali, namun semua itu tidak serta-merta membuat dokter sekaligus penulis itu menyerah untuk berjuang. Mesir sendiri kala itu dipimpin oleh Anwar Saddat yang dikenal sangat otoriter dan memang memiliki angka yang tinggi dalam kekerasan pada perempuan.

Berada dalam penjara tidak membuat semangat menulis Nawal memudar, bahkan sebaliknya. Bertemu dengan perempuan-perempuan dengan berbagai latar belakang serta cerita membuat Nawal hingga menulis diatas kertas toilet yang kelak akan melahirkan buku Memoar dalam Penjara yang mengisahkan bagaimana ketimpangan ekonomi dan gender menjadi penyebab perempuan ke dalam jeruji besi.

Sebelum karirnya dikenal sebagai seorang penulis, Nawal sendiri merupakan seorang dokter kenamaan di Mesir. Menurut siaran radio Marsinah FM, ketika menjalani praktek medis itulah, Nawal mengamati masalah fisik dan psikologis perempuan dan menghubungkannya dengan praktik budaya yang menindas, yakni penindasan patriarkal, penindasan kelas dan penindasan imperialis.

Ketika bekerja sebagai dokter di desa kelahirannya, Kafr Tahla, Nawal mengamati kesulitan dan kesenjangan yang dihadapi perempuan pedesaan dan mendorongnya untuk menulis sebuah buku dengan judul Women and Sex. Walaupun bukunya menjadi pembicaraan didunia internasional, Nawal harus diganjar dengan diberhentikan dari jabatannya sebagai seorang direktur oleh Menteri Kesehatan Mesir. Alasannya? Buku Nawal menyuarakan tentang bagaimana bahayanya sunat perempuan yang memang masih mendarah daging di Mesir, ia sendiri juga mengalami sunat ketika umur enam tahun.

Diberhentikan dari jabatan, membuat Nawal semakin gencar untuk mengadakan kajian-kajian dan pertemuan ilmiah tentang perempuan. Tidak hanya di negaranya sendiri, Nawal juga terbang ke Sudan untuk mengetahui secara langsung tentang bagaimana praktik sunat perempuan disana dimana masih dilakukan secara tradisional yang tentunya sangat menyakitkan dan berbahaya bagi keselamatan perempuan itu sendiri.

Selain sunat perempuan, Nawal juga mengutuk keras pernikahan dibawah umur yang masih subur dilakukan oleh masyarakat Mesir. Kepalanya mendidih mengingat bagaimana pasien-pasiennya selalu menceritakan kelakuan buruk dari suami mereka yang ringan tangan serta tidak memerhatikan kebahagiaan istrinya.

Nawal kemudian melakukan penelitian tentang kasus perempuan dipenjara dan rumah sakit, penelitian ini kemudian dikenal sebagai buku Perempuan di Titik Nol yang membuatnya terkenal hingga ke seluruh dunia. Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke 12 bahasa sedunia yang menjadikan Nawal salah satu tokoh penggerak karya klasik perempuan Islam di dunia.

Sampai sekarang, Nawal yang saat ini sudah menginjak umur 88 tahun, tetap melakukan perlawanannya terhadap penindasan perempuan baik lewat literasi maupun aksi. Tahun 2011, Nawal masih terlihat menyatu pada gelombang demonstrasi untuk menurunkan presiden Mesir Hosni Mubarak yang juga menjebloskannya ke penjara bersama dengan mantan presiden Anwar Sadat.

Nawal terus akan melawan, entah sampai kapan. Dalam wawancaranya dengan majalah Guardian, Nawal sempat menanyakan pertanyaan yang ditujukan untuk seluruh perempuan di dunia yang mungkin beberapa dari kita sebagai perempuan, merenungi pertanyaannya.

Do you feel you are liberated? I feel I am not”